Palembang, 12 September 2026 — Memasuki kehidupan perguruan tinggi tidak hanya berarti mengenal ruang kuliah, sistem akademik, dan lingkungan kampus. Lebih jauh, mahasiswa baru perlu memahami nilai, etika, serta tanggung jawab bersama dalam membangun ruang pendidikan yang aman dan bermartabat.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) ITS Nahdlatul Ulama Sriwijaya Sumatera Selatan Tahun 2026, yang dilaksanakan pada 12 September 2026.
Salah satu agenda penting dalam rangkaian PKKMB tersebut adalah sosialisasi pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi dengan menghadirkan dosen UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Siti Rochmiyatun, S.H., M.Hum., sebagai narasumber.
Materi mengenai pencegahan kekerasan seksual ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembekalan mahasiswa baru. Langkah ini menjadi relevan karena mahasiswa tidak hanya perlu memahami hak dan kewajibannya dalam kehidupan akademik, tetapi juga mengenali bentuk-bentuk kekerasan, membangun keberanian untuk mencegahnya, serta mengetahui pentingnya mekanisme penanganan ketika terjadi persoalan di lingkungan perguruan tinggi.
Kebijakan nasional mengenai pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi juga menempatkan kampus sebagai ruang yang harus memberikan perlindungan, pendampingan, dan pemulihan bagi warga perguruan tinggi.
Wakil Rektor 1 Prof. Dr. RR. Rina Antasari, S.H., M.H. menegaskan bahwa mahasiswa baru harus sejak awal memahami bahwa kehidupan kampus dibangun atas prinsip saling menghormati dan menjaga martabat setiap individu.
“PKKMB bukan sekadar pintu masuk untuk mengenalkan mahasiswa pada dunia akademik, tetapi juga menjadi momentum untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kampus yang aman, beretika dan saling menghargai. Kami ingin mahasiswa ITS NU Sriwijaya memahami bahwa tidak ada ruang bagi kekerasan dalam bentuk apa pun. Setiap warga kampus memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang saling melindungi, menghormati dan memberikan rasa aman.”
Sementara itu, Dr. Siti Rochmiyatun, S.H., M.Hum., dalam penyampaian materinya mengajak mahasiswa baru untuk tidak menganggap persoalan kekerasan seksual sebagai isu yang jauh dari kehidupan mereka. Menurutnya, pemahaman sejak dini menjadi salah satu fondasi penting untuk membangun budaya kampus yang sehat.
“Pencegahan kekerasan seksual harus dimulai dari pengetahuan dan keberanian untuk memahami batas-batas yang harus dihormati dalam sebuah relasi. Mahasiswa perlu mengetahui bahwa menjaga martabat orang lain merupakan bagian dari etika kehidupan akademik. Ketika terjadi persoalan, jangan membiarkan korban menghadapi situasi tersebut sendirian. Kampus harus menjadi ruang yang aman untuk belajar, menyampaikan pendapat, sekaligus mendapatkan perlindungan.”
Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif. Pencegahan tidak cukup hanya dibebankan kepada lembaga atau pihak tertentu, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh warga kampus.
Dalam konteks tersebut, edukasi kepada mahasiswa baru menjadi langkah strategis karena mahasiswa berada pada fase awal memasuki lingkungan akademik dengan pola interaksi dan relasi sosial yang lebih luas.
Ketua Panitia PKKMB 2026, Anggari Ayu Prahartiningsyah, M.Kom., mengatakan bahwa panitia berupaya menjadikan PKKMB bukan hanya sebagai kegiatan seremonial penyambutan mahasiswa baru, tetapi sebagai proses awal untuk membangun karakter dan kesiapan mahasiswa menghadapi kehidupan perguruan tinggi.
“Kami ingin PKKMB 2026 menjadi pengalaman pertama yang memberikan kesan positif sekaligus bekal yang bermakna bagi mahasiswa baru. Karena itu, rangkaian kegiatan tidak hanya berorientasi pada pengenalan akademik dan kelembagaan, tetapi juga membangun kesadaran tentang etika, tanggung jawab, penghormatan terhadap sesama dan pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman. Kami berharap nilai-nilai tersebut tidak berhenti selama PKKMB, tetapi menjadi budaya yang dibawa mahasiswa sepanjang menjalani proses pendidikannya.”
Pelaksanaan PKKMB 2026 sekaligus menunjukkan bahwa pengenalan kehidupan kampus dapat menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan budaya akademik sejak hari pertama mahasiswa menjadi bagian dari civitas akademika.
Bagi ITS NU Sriwijaya Sumatera Selatan, pendidikan tinggi tidak hanya diarahkan untuk membentuk mahasiswa yang memiliki kompetensi akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas, tanggung jawab sosial, serta mampu menghargai hak dan martabat orang lain.
Melalui sosialisasi pencegahan dan penanganan kekerasan seksual tersebut, mahasiswa baru diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya menciptakan lingkungan akademik yang sehat. Dengan demikian, semangat memasuki dunia perguruan tinggi tidak hanya ditandai dengan dimulainya perjalanan akademik, tetapi juga dengan tumbuhnya komitmen bersama untuk membangun kampus yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari kekerasan.